Trending Video



loading...
Judul:[FULL] MERIAH!! SEMINAR ROCKY GERUNG | UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Durasi:00:38:34
Dilihat:556,846x
Diterbitkan:16 november 2018
Sumber:Youtube
Suka Ini ?:

Rocky Gerung menjadi salah satu pemateri dalam Seminar Nasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ( UINSA), Jumat (16/11/2018).

Seminar bertajuk "Eksistensi Demokrasi Pancasila dalam Menghadapi Tahun Politik" itu diikuti oleh ribuan mahasiswa.

Bukan hanya dari UINSA, mahasiswa dari kampus lain juga turut hadir. Bahkan, hadir pula beberapa perempuan yang mengatasnamakan perwakilan dari kalangan emak-emak.

Dalam presentasinya, Rocky Gerung mengatakan para calon legislatif harus diuji program pencalonannya sebelum akhirnya dipilih saat pemilu 2019 mendatang.

Satu di antara media ujian tersebut di antaranya bisa melalui forum di kampus.

"Para calon legislatif seharusnya diuji di kampus. Sebab, kampus menjadi gudangnya pemikiran yang liar sehingga bisa menjadi media untuk menggali ide dan gagasan para caleg,"

Era demokrasi, seharusnya merawat keberagaman ide dan gagasan. Namun, kampus seakan mengekang lahirnya ide tersebut agar seakan linier. "Padahal, di era demokrasi, tak ada yang linier. Demokrasi memberikan ruang untuk adu argumen," katanya.

Rocky melanjutkan, sayangnya kampus tak berani mengambil peran tersebut. Pun diperparah dengan para caleg hingga kandidat presiden yang juga enggan untuk diuji di kalangan masyarakat kampus.

"Caleg dan capres takut masuk kampus karena gugup. Mereka akan benar-benar diuji. Wong saya yang bukan caleg saja gugup," kata Rocky pada penjelasannya.
Apalagi, kebanyakan politisi akhir-akhir ini seringkali memamerkan olokan yang menyerang satu sama lain dengan mengabaikan esensi dari rencana program pencalonan. "Sehingga, kalau IQ satu forum ini dikumpulkan, sebenarnya jauh lebih banyak dibandingkan yang olok-olokkan di gedung senayan sana," sindir Rocky disambut tawa peserta.

Rocky menyebut bahwa mayoritas penjelasan banyak politisi di atas panggung politik tak dapat dipertanggungjawabkan. "Kalau mereka bicara di atas panggung, kebanyakan hoaxnya. Tujuannya, untuk membaik-baikkan dirinya dan menebar janji," kata Rocky.

Ia mencontohkan infografis yang seringkali diberikan pemerintah. Misalnya, angka kesenjangan antara si kaya dan si miskin (gini ratio) yang menurun.

Apabila sebelumnya gini ratio sebesar 0,41, namun sekarang sudah menurun menjadi 0,38. Menurut Rocky, penurunan gini ratio tersebut disebabkan karena konsumsi antara si kaya dan si miskin cenderung sama.

Namun, perbandingan harta dan kekayaan sebenarnya cukup timpang. "Yang di survei di data tersebut merupakan jumlah konsumsi, bukan harta yang dimiliki yang bersangkutan. Saat ini, jumlah konsumsi masyarakat cenderung sama antara si kaya dan yang miskin, sehingga seakan kesenjangan menurun," katanya.
Fakta semacam itu, menurut Rocky, hanya akan bisa dibantah oleh kalangan kampus. "Hanya masyarakat di kampus yang bisa membantah. Sebab, materi semacam itu dikupas tuntas di kampus," tandasnya.

Sehingga, Rocky pun menantang para caleg untuk siap berdebat di dalam kampus, di depan para cendekiawan.

"Menghadapi pemilu 2019, kita memang wajar cemas. Sebab, apakah benar suara kita, akan kita berikan kepada caleg yang bisa mewakili aspirasi kita?," tandas Pendiri Setara Institute pada tahun 2007 merupakan lembaga Keberagaman Hak Asasi Manusia ini.

-------------------------
like - comment - subscribe channel ini - & share videonya!

BAGIKAN KE TEMAN ANDA