Trending Video



loading...
Judul:Serang Jokowi Dengan Isu Ekonomi, Lalu Prabowo Sandi “Ditampar” Uang Mereka Sendiri! Genderuwo Atau
Durasi:00:06:26
Dilihat:119,673x
Diterbitkan:20 november 2018
Sumber:Youtube
Suka Ini ?:

https://seword.com/politik/serang-jok...

Prabowo pernah mengarang buku yang mengandung judul Paradoks. Isinya mengeluhkan kekayaan alam Indonesia yang katanya banyak dikuasai asing dan hanya sebagian kecil orang Indonesia. Padahal kalau pun betul, itu adalah hasil dosa masa lalu. Jauh dari masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Malah masalah-masalah kekayaan alam Indonesia itu dimulai sejak jaman Orde Baru, jamannya mantan mertuanya. Kenapa sekarang mengeluhnya ke Jokowi? Seakan-akan Jokowi lah yang menyebabkan itu semua. Padahal Presiden Jokowi sudah bekerja keras mengambil alih berbagai kepemilikan asing di Indonesia, membangun infrastruktur yang harusnya sudah dibangun sejak jaman Orde Baru, dan memeratakan kesejahteraan rakyat. Yang salah siapa, yang disalahkan siapa! Kan kampret sontoloyo genderuwo!

Nah, sama saja dengan kampanye yang dilakukan oleh gerombolan Prabowo dan antek-anteknya. Disebut harga-harga bahan pokok selangit dan rakyat menjerit. Well, emak-emak sih yang katanya menjerit. Namun, apa temuan Presiden Jokowi ketika beliau terjun langsung ke pasar beberapa hari lalu, di Bogor, di Tangerang, di Lamongan, Jawa Timur? Harga-harga stabil, ada yang turun, ada yang naik sesuai mekanisme pasar, namun kenaikannya tidak melejit, semua biasa saja. Angka inflasi masih di bawah 3,5 %. Punya uang Rp 5.000 bisa beli tempe ukuran besar. Justru para pedagang mengeluh, dengan adanya kampanye Sandiaga yang menyebut harga-harga naik, orang-orang jadi takut ke pasar. Akhirnya para pedagang pasar se-Indonesia yang tergabung dalam Komite Pedagang Pasar (KPP) mendeklarasikan dukungannya terhadap Jokowi – Ma’ruf.




https://metro.tempo.co/read/1138660/r...

Pun Presiden Jokowi memberikan peringatan tidak langsung, agar jangan suka menakut-nakuti orang belanja ke pasar. Padahal yang disebut harga-harga naik itu tidak benar alias hoax. Nanti orang-orang tidak mau belanja ke pasar tradisional. Mereka akan belanja di supermarket. Yang dirugikan ya para pedagang lagi. Dari sini saja kelihatan beda kelas antara Jokowi dan Prabowo – Sandiaga. Entah sadar atau tidak, Prabowo – Sandiaga menciptakan paradoks sendiri yang ujung-ujungnya merugikan diri mereka sendiri, menghilangkan potensi suara dari para pedagang pasar. Demi apa? Emak-emak yang mengeluh, yang jumlahnya hanya segelintir itu?

Begitu pula dengan soal pengelolaan ekonomi. Dengan gampangnya Prabowo – Sandiaga menyebut bahwa pemerintahan Jokowi telah gagal dalam 3 hal. Dilansir cnbcindonesia, diwakili oleh anggota timsesnya, Dradjad Wibowo, dipaparkan 3 kegagalan itu. "Tim ekonomi Jokowi jelek sekali karena gagal mewujudkan janji-janji Pak Jokowi," kata Dradjad. Pertama, adalah pertumbuhan ekonomi yang dipatok dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 7% dalam lima tahun kepemimpinan. Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata hanya tumbuh 5% atau jauh dari proyeksi yang dipatok pada awal pemerintahan. Kedua, gagal menjaga stabilitas. Menurut Dradjad, kegagalan itu bisa dilihat dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang rentan. "Ketiga, beliau gagal membuat iklim bisnis yang kondusif, daya beli stagnan, ritel juga anjlok," kata Dradjad Sumber

BAGIKAN KE TEMAN ANDA